Senin, 31 Januari 2011

Pedang Pedang Rosulullah SAW Yang MENGAGUMKAN

:naikkuda: Pedang Pedang Rosulullah Yang MENGAGUMKAN


1. Al Ma’thur
Pedang yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu yang pertama di Mekah. Pedang ini diberi oleh ayahanda beliau, dan dibawa waktu hijrah dari Mekah ke Medinah sampai akhirnya diberikan bersama-sama dengan peralatan perang lain kepada Ali bin Abi Thalib.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 99 cm. Pegangannya terbuat dari emas dengan bentuk berupa 2 ular dengan berlapiskan emeralds dan pirus. Dekat dengan pegangan itu terdapat Kufic ukiran tulisan Arab berbunyi: ‘Abdallah bin Abd al-Mutalib’


2. Al Adb
Al-’Adb, nama pedang ini, berarti ‘memotong’ atau ‘tajam.’ Pedang ini dikirim ke para sahabat Nabi Muhammad SAW sesaat sebelum Perang Badar. Beliau menggunakan pedang ini di Perang Uhud dan pengikut-pengikutnnya menggunakan pedang ini untuk menunjukkan kesetiaan kepada Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di masjid Husain di Kairo Mesir.

3. Dhu Al Faqar

Sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan pada waktu perang Badr. Dan dilaporkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberikan pedang ini kepada Ali bin Abi Thalib, yang kemudian Ali mengembalikannya ketika Perang Uhud dengan bersimbah darah dari tangan dan bahunya, dengan membawa Dhu Al Faqar di tangannya. Banyak sumber mengatakan bahwa pedang ini milik Ali Bin Abi Thalib dan keluarga. Berbentuk blade dengan dua mata.

4. Al Battar

Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai ‘Pedangnya para nabi‘, dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi : ‘Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAW’. Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya.

Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika beliau turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.

5. Hatf

Sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Dikisahkan bahwa Nabi Daud AS mengambil pedang ‘Al Battar’ dari Goliath sebagai rampasan ketika beliau mengalahkan Goliath tersebut pada saat umurnya 20 tahun. Allah SWT memberi kemampuan kepada Nabi Daud AS untuk ‘bekerja’ dengan besi, membuat baju baja, senjata dan alat perang, dan beliau juga membuat senjatanya sendiri.
Dan Hatf adalah salah satu buatannya, menyerupai Al Battar tetapi lebih besar dari itu. Beliau menggunakan pedang ini yang kemudian disimpan oleh suku Levita (suku yang menyimpan senjata-senjata barang Israel) dan akhirnya sampai ke tangan Nabi Muhammad SAW. Sekarang pedang ini berada di Musemum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade, dengan panjang 112 cm dan lebar 8 cm.

6. Al Mikhdam

bahwa pedang ini berasal dari Nabi Muhammad SAW yang kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib dan diteruskan ke anak-anaknya Ali. Tapi ada kabar lain bahwa pedang ini berasal dari Ali bin Abi Thalib sebagai hasil rampasan pada serangan yang beliau pimpin di Syria. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 97 cm, dan mempunyai ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Zayn al-Din al-Abidin’.<

7. Al Rasub

pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel.
Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 140 cm, mempunyai bulatan emas yang didalamnya terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi: ‘Ja’far al-Sadiq’.

8. Al Qadib:

Al-Qadib berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan. Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah – Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.” Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Panjangnya adalah 100 cm dan memiliki sarung berupa kulit hewan yang dicelup.

9. Qal’a:

Pedang ini dikenal sebagai “Qal’i” atau “Qul’ay.” Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata “qal’i” merujuk kepada “timah” atau “timah putih” yang di tambang berbagai lokasi. Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika beliau menemukan air Zamzam di Mekah.

Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 100 cm. Didalamnya terdapat ukiran bahasa Arab berbunyi: “Ini adalah pedang mulia dari rumah Nabi Muhammad SAW, Rasul Allah.” Pedang ini berbeda dari yang lain karena pedang ini mempunyai desain berbentuk gelombang.

Rabu, 26 Januari 2011

Aqidah ISLAM

Pada suatu hari Umar Ra di tanya oleh sahabatnya

”Wahai Umar apa yang disebut iman itu?”

kemudian beliau bertanya dengan sebuah pertanyaan

“jika engkau berjalan ditempat yang penuh dengan duri, apa yang engkau lakukan?”

sahabat itu menjawab “saya akan berhati-hati”kemudian umarpun menjawab “itulah iman”

Dalam satu haditsnya, Rasulullah as berkisah tentang seorang laki-laki yang masuk surga karena seekor lalat dan seorang laki-laki lain masuk neraka karena seekor lalat."Wah, bagaimana itu bisa terjadi, ya Rasulullah?" kata sahabat yang tak habis pikir.

Nabi menjawab, " Ada dua lelaki memasuki sebuah desa yang dihuni para penyembah berhala. Mereka berdua tidak boleh masuk ke desa itu sebelum berkurban untuk berhala. 'Berkurbanlah,' kata penduduk desa itu kepada dua lelaki tadi. 'Aku tidak punya sesuatu untuk berkurban,' jawab lelaki pertama. 'Ah, sudahlah, berkurban saja walau dengan seekor lalat!' tandas penduduk desa lagi.Lelaki pertama ini lalu berkurban dengan seekor lalat, kemudian penduduk desa membiarkannya memasuki desa, tetapi setelah mati, laki-laki ini masuk neraka.

Lalu mereka berkata kepada orang kedua, 'Berkurbanlah!' Laki-laki ini menjawab, 'Saya tidak mau berkurban karena seseorang, selain Allah.'

Lalu mereka membunuhnya, dan Allah memasukkan dia ke dalam surga."

Hadits Rasulullah saw itu diriwayatkan oleh Ahmad. Intinya Nabi menjelaskan betapa syirik sangat dicemburui Allah, dibenci Allah, bahkan sangat dimurkai oleh-Nya. Betapa besar dosa syirik. Tindakan ini dapat menodai ibadah yang murni dan mendorong seseorang ke dalam neraka, untuk selamanya.

Cerita Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wa Salam ini sekaligus menjadi penunjuk bagi kita semua bagaimana seharusnya mereka menjalani hidup di dunia yang sangat sementara ini. Jangan sampai kita tersandung dan terpeleset oleh hal-hal yang sederhana dan remeh padahal itu sangat fatal akibatnya.agar kita tidak terpeleset/kesandung,maka penting bagi kita untuk mengetahui secara mendalam hal-hal yang berkenaan dengan aqidah Islamiyah

þ MAKNA AQIDAH DAN URGENSINYA SEBAGAI LANDASAN AGAMA

Ø Aqidah Secara Etimologi

Aqidah berasal dari kata 'aqd yang berarti pengikatan.
" " artinya "Saya ber-i'tiqad begini". Maksudnya, saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, "Dia mempunyai aqidah yang benar," berarti aqidahnya bebas dari keraguan.
Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Ø Aqidah Secara Syara'

Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.
Syari'at terbagi menjadi dua: i'tiqadiyah dan amaliyah.

I'tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i'tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga ber-i'tiqad terhadap rukun-rukun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama).

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tatacara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far'iyah (cabang agama), karena ia dibangun diatas i'tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i'tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya." (Al-Kahfi: 110)

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)

Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang pertama kali adalah pelurusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu', ..." (An-Nahl: 36)

Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya:

"Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya." (Al-A'raf: 59, 65, 73, 85)

Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu'aib dan seluruh rasul . Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi'tsah[1] - Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqi-dah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da'i[2] dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada seluruh perintah agama yang lain.

þ SUMBER-SUMBER AQIDAH YANG BENAR DAN MANHAJ SALAF DALAM MENGAMBIL AQIDAH


Aqidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar'i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya. karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah sendiri. Dan tidak seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Oleh karena itu manhaj Salafu Shalih dan para pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Maka segala apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah tentang hak Allah mereka mengimaninya, meyakininya dan mengamalkannya. Sedangkan apa yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam i'tiqad. Bahkan aqidah mereka adalah satu dan jama'ah mereka juga satu. Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Sunnah RasulNya dengan kesatuan kata, kebenaran aqidah dan kesatuan manhaj. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ..." (Ali Imran: 103)

"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barang siapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (Thaha: 123)

Karena itulah mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan yang kesemuanya di Neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab:


"Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku."
(HR. Ahmad)

Kebenaran sabda baginda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut telah terbukti ketika sebagian manusia membangun aqidahnya di atas landasan selain Kitab dan Sunnah, yaitu di atas landasan ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang diwarisi dari filsafat Yunani dan Romawi. Maka terjadilah penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah yang mengakibatkan pecahnya umat dan retaknya masyarakat Islam.

þ PENYIMPANGAN AQIDAH DAN CARA-CARA PENANGGULANGANNYA

Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat.

Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin me-numpuk dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan menyudahi hidup, sekali pun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada banyak orang yang telah kehilangan hidayah aqidah yang benar. Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan masyarakat bahimi (hewani), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekali pun mereka bergelimang materi tetapi terkadang justru sering menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah. Karena sesungguhnya kekayaan materi memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali aqidah shahihah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih." (Al-Mu'minun: 51)

"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): 'Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud', dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan." (Saba': 10-11)

Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan madiyah (materi). Jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah batil, maka kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat perusak, seperti yang terjadi di negara-negara kafir yang memiliki materi, tetapi tidak memiliki aqidah shahihah.

 Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah shahihah yang harus kita ketahui yaitu:

  1. Kebodohan terhadap aqidah shahihah, karena tidak mau (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau karena kurangnya perhatian terhadapnya. Sehingga tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Akibatnya, mereka meyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar radhiyallah 'anhu :

    "Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kejahiliyahan."
  2. Ta'ashshub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekali pun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahinya, sekali pun hal itu benar. Sebagaimana yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala:
    "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (Al-Baqarah: 170)
  3. Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah ttanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu'tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka ber-taqlid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shahihah.
  4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas derajat yang semesti-nya, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan maupun menolak kemudharatan. Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya, sehingga sampai pada tingkat penyembahan para wali tersebut dan bukan menyembah Allah. Mereka ber-taqarrub kepada kuburan para wali itu dengan hewan qurban, nadzar, do'a, istighatsah dan meminta pertolongan. Sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh alaihis salam terhadap orang-orang shalih ketika mereka berkata:
    "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr."
    (Nuh: 23)
    Dan demikianlah yang terjadi pada pengagung-pengagung kuburan di berbagai negeri.sekarang.ini.
  5. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam KitabNya (ayat-ayat Qur'aniyah ). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata. Sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan:
    "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (Al-Qashash:78)
    Dan sebagaimana perkataan orang lain yang juga sombong:
    "Ini-adalah-hakku.."(Fushshilat:50)
    "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku". (Az-Zumar:49)
    Mereka tidak berpikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan ma-nusia lengkap dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-keistimewaan alam serta mengfungsikannya demi kepentingan manusia.

    "Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu". (Ash-Shaffat:96)

    "Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, ..." (Al-A'raf: 185)
    "Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan de-ngan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendakNya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakan-nya." (Ibrahim: 32-34)
  6. Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar (menurut Islam). Padahal baginda Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

    "Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang-tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nash-rani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari)
    Jadi, orangtua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya.
  7. Enggannya media pendidikan dan media informasi melak-sanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberi-kan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata. Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah serta menang-kis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang lengkap persenjataannya.

þ CARA-CARA MENANGGULANGI PENYIMPANGAN INI

Cara menanggulangi penyimpangan di atas teringkas dalam poin-poin berikut ini:

  1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengambil aqidah shahihah. Sebagaimana para Salaf Shalih me-ngambil aqidah mereka dari keduanya. Tidak akan dapat mem-perbaiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikha-watirkan terperosok ke dalamnya.
  2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah, aqidah salaf, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini.
  3. Harus ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran. Sedangkan kitab-kitab kelompok penyeleweng harus dijauhkan.
  4. Menyebar para da'i yang meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil

Maraji' : Kitab Tauhid 1,Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan



[1] Masa pengangkatan beliau menjadi nabi

[2] orang yang menyeru dan mengajak pada sesuatu dalam hal ini mengajak pada Islam

Selasa, 25 Januari 2011

RENUNGAN TUK AKTIFIS DA’WAH

Percakapan menjelang rapat:
A;‘malam ini ada rapat lho?’
B;‘afwan akh, ana tidak dapat info.emang rapat apa? ‘

A;‘ini rapat kegiatan kampus, bisa datengkan?’

B;’ana tidak dapat jarkom.udah ana diwakilin antum aja’

A;’kenapa tidak ikut?’

B;’sudah banyak orang akh, ana pulang dulu ya.

Sering kita jumpai realita diatas. Dengan banyak alasan yang kita buat tuk tidak hadir dalam rapat dan kitapun menikmati .Tetapi, apakah dihadapan Allah masalahnya juga 'selesai'? dalam masalah2 dakwah dan akhirat orang-orang beriman tidak semestinya banyak minta izin. Tidak takutkah mereka akan firman Allah,


Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa(QS.9:4)

ingatkah suatu sejarah tentang perang tabuk?suatu kali, datanglah sekumpulan orang islam
minta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut dalam perang tabuk dan Rasulullah mengizinkannya maka turunlah firman Allah

Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?
QS 9:43

itulah maksudnya, andaikan pun kita diizinkan dengan
alasan kita belum tentu selesai urusan dengan Allah karena IA Maha Tahu apa yg ada dalam hati kita.apakah kita merasa capek ? atau
tiba2 dirmuah anak-anak rewel?atau tiba2 inget punya tugas banyak harus dikumpulkan?

waspadalah, waspadalah
ada kalanya karena dari awal azzam kita kurang kuat ,niat kita kurang bulat, maka Allah tidak redho dengan itu. Dan dijadikanlah kita golongan yg tertinggal;


Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu."
QS 9:46

maka jika dari awal kita berniat untuk tidak hadir, biasanya,akan selalu muncul
alasan untuk itu.
sebabnya bisa jadi, karena Allah tidak menghendaki mereka yg niatnya tidak bulat, azzamnya kurang kuat.jika mereka ikut, bisa2 malah menambah masalah

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. 9:47
karena itu jika al akh( saya maksudnya) berniat tidak hadir karena
alasan:

udah malam lah,capek lah , rumahnya jauh lah, dll lah
waspadalah,jangan2 memang niat kita dari awal kurang bulat dan Allah tidak suka dengan itu

tetapi ada yg lebih berat dari itu:

al akh yg tidak (ingin) hadir dan ia tidak minta izin ia justru menyampaikan alasan2nya ke al akh yg lain siapa tahu ada yg mengikutinya ^_^
yg ini ayatnya agak berat


Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.

Mereka juga mencari-cari alasan

Para shahabat ra yang mulia,
mereka juga mencari-cari
alasan saat terbentang sebuah amalan
lihatlah beberpa contoh berikut:

tersebutlah seorang shahabat yg mulia
Abdullah bin Mughfil namanya
saat genderang perang tabuh berkumandang
ia ingin ikut berangkat berperang

tapi ia tidak punya bekal
tidak punya senjata
tidak punya binatang tunggangan

beberapa shahabat lain juga bernasib sama
seperti Ulyah bin Yazid ra

tapi mereka semua ingin ikut tetap berangkat
ke medan jihad
datanglah mereka menemui Nabi minta perbekalan
tapi nabi bilang sudah habis itu perbekalan'
merekapun kembali dengan air mata bercucuran
sedih tak ikut berangkat

turunlah firman Allah
dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan[654]. 9:92

contoh lain, orang2 miskin di zaman Nabi SAW:


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sahabat Muhajirin yang miskin datang kepada Rasulullah saw. dan mengadu: "Orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi." Beliau bertanya : "Mengapa demikian?" Mereka menjawab: "Mereka mengerjakan salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka juga bersedekah. Sedangkan kami tidak, serta mereka memerdekakan budak, tetapi kami tidak dapat memerdekakannya." Kemudian beliau bersabda: "Bolehkah aku memberitahu kalian tentang sesuatu yang dapat mengejar mereka, dan kalian akan berada dalam barisan terdepan bagi orang-orang sesudahmu, serta tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang melakukan seperti apa yang kalian lakukan?" Mereka menjawab: "Baiklah, wahai Rasulullah."Beliau menjawab: "Yaitu supaya kalian membaca tasbih (Subhanallah) membaca takbir (Allahu akbar) dan membaca tahmid (Alhamdulillah) setiap selesai salat masing-masing tiga puluh tiga kali". Tetapi, setelah itu sahabat-sahabat Muhajirin yang miskin kembali lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata: ""Saudara-saudara kami yang kaya itu mendengar apa yang kami lakukan, kemudian mereka melakukan seperti apa yang kami lakukan." Maka Rasulullah saw. bersabda: "Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki."
(HR. Bukhari dan Muslim)

mengapa disebutkan para shahabat diatas mencari2 alasan?

Ya, sebenarnya mereka kekurangan.
mereka tak punya senjata, bekal.
Mereka miskin, tak bisa berinfaq harta, apatah lg memerdekakan budak.

tetapi mereka mencari2
alasan agar bisa berjihad
mereka mencari2
alasan agar menjadi yg terbaik di hadapan Allah.

dan itulah bedanya mencari alasan kita dan mereka:

kita (khususnya saya), dengan segala kelebihan yg kita miliki
mencari2 alasan untuk tidak berperan serta dalam kebaikan

adapun para shahabat, dengan segala kekurangan yg mereka alami
mereka mencari2 alasan agar tetap berperan dalam jihad dan dakwah

maka begitulah, setiap menjelang perang:

shahabat yg masih muda, memakai sepatu berhak tinggi
mereka ingin tampak dewasa dan diikutkan dalam jihad
shahabat yg tua, mereka tunjukkan ahli memanahnya
mereka sampaikan ingin beroleh syahid di jalan-Nya

tetapi ada yg sangat monumental dari itu semua:
kisah wafatnya Abdullah bin Ummi maktum

lelaki buta yg mulia ini, dengan kekurangannya
mencari2
alasan biar ikut berperang
biar bisa syahid

tetapi khalifahpun punya
alasan melarang

lelaki buta berbahaya jika ikut berperang
iya kalau yg ditebas adalah musuhnya,
bagaimana jika keliru temannya?

tetapi, lelaki buta yg mulia itu
selalu
punya alasan untuk menggapai cita2 syahidnya
dan inilah kisah akhir hayatnya:

Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.” Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. ‘Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah ‘Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, ‘Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah ‘Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa’ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. ‘Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pndahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ‘ Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin

jikapun harus izin

tetapi apakah selamanya kita dilarang minta izin?
tidak juga. seperti Abdullah bin Mughfil diatas.
karena itu jikapun kita minta izin karena uzur,
beritahukanlah kepada yg berwenang,
dengan cara yg melegakan si penerima kabar:

1. sampaikan sebelum acara
2. kemukakan mengapa anda 'layak' tidak hadir
3. berikan alternatif lain.
4. lihatlah perasaan kita, apa kita nyaman dan menikmati ketidakhadiran ini?

'maaf ustadz, saya tidak bisa hadir. capek'
'afwan, ada urusan keluarga. izin'
'saya lagi lemah iman, saya mundur dari kepanitiaan'

sms2 seperti diatas, bukan melegakan
tapi bisa mendatangkan zhan:
secapek apa sih...?
sepenting apa sih..?
selemah apa sih...?

seorang pemuda menemui Nabi SAW
'Ya nabi, saya ingin berjihad, tapi ibu saya sakt keras,
mana yg harus saya dahulukan?'


'Ya Nabi, saya ingin ikut perang, tapi saya tidak punya bekal,
berilah saya bekal?
' Abdullah bin Mughfil

berkaca dari hal tsb
jadi kalaupun minta izin, sms lah yg lengkap
'pak, saya sakit, sudah 2 hari tidak masuk kerja, apa diizinkan?'
tak ada
alasan kecuali si penerima sms akan mengizinkan

'pak, ibu saya meminta saya pulang, katanya penting,
apa boleh jika saya tidak hadir?'

'tad, saya harus jaga anak2, umminya sakit,
bagaimana kalau liqa dipindah di rumah saya saja?'

'tadz, saya harus lembur kerja menddadak, tidak bisa hadir.
iqab apa yg perlu saya tunaikan untuk ini?'

seorang ksatria,
selalu punya
alasan layak untuk disampaikan

penutup: ada juga kabar gembiranya

dalam shahihain, dari Anas ra Rasulullah SAW bersabda
di Madinah ada sekelompok orang, tidaklah kalian melintasi lembah atau menempuh perjalanan, melainkan ia bersama kalian. Shabat bertanya, sekalipun mereka tetap di Madinah? kata Rasulullah, ya, uzur telah menahan mereka

jika memang kita punya
alasan
dan
alasan itu layak
jika kita menangis saat tidak berangkat
seperti Abdullah bin Mughfil
jika kita resah karena
ketidakikutsertaan kita

semoga Allah mencatat
kita termasuk dalam kafilah
yang ikut berangkat serta

wallahu a'alam